Cari Blog Ini

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 14 Mei 2013

Kampus dan otoritas moral


       Dewasa ini, Kampus sebagai pendidikan tinggi mendapatkan tantangan yang amat komplek. Keberadaannya secara historis mampu memenangkan gejolak politik yang hadir di  setiap sejarah. sebut saja '98 dan '66. kedua momentum itu memiliki tempat tersendiri terhadap sejarah berbangsa dan bernegara. sementara kelanjutan dari visi yang diusung rentan sekali tumbang dalam keniscayaan.

               Peranan kampus sebagai katalisator sekaligus kontrol politik bagi para penguasa sangat di nantikan oleh masyarakat dewasa ini. Karena dari kekuasaanlah korupsi itu muncul. Sebagaimana yang pernah terjadi pada Rezim orde baru. Mosi tidak percaya terhadap diktator soeharto, salah satunya disebabkan oleh praktik Korupsi Kolusi dan Nepotismenya. Hal ini yang menjadi legitimasi moral gerakan di berbagai kampus untuk mengehentikan arogansi kekuasaan, melalui diskusi-diskusi kecil dan aksi-aksi turun jalan serta turut aktif dalam gersos (gerakan sosial).
             
               Sementara yang terjadi sekarang adalah semua orang bisa terlibat dalam “perubahan sosial” dan setiap orang memiliki kuasa di sektor manapun. Sedangkan kata Lord acton universitas cambridge kekuasaan sendiri memiliki kecenderungan untuk melakukan penyelewengan (power tends to corrupt). Dimana ada kekuasaan pasti ada korupsi, demikianlah diktum sederhananya. Jadi setiap kekuasaan baik politik, budaya, agama, dan ekonomi memiliki potensi untuk melakukan korupsi. Sehingga praktik ini menyebar kemana-mana atau mengalami polarisasi, tidak hanya di wilayah politik saja tapi juga disektor lain. Masing-masing saling terkait dan menjadi semacam aliran paralel, dengan pusatnya tetap pada kekuasaan politik.
         
        Dalam konteks kekuasaan Politik, praktik korupsi sudah melampauhi batas fungsional lembaga, sekalipun lembaga hukum sendiri. oknum-oknum di lembaga birokasi dan institusi-institusi sosial beramai-ramai menciptakan Sistem kejahatan yang semi legal. Jika tidak segera di eliminir, korupsi akan menjadi budaya yang memiliki legitimasi moral dan budaya itu sendiri.
             
            Jadi, kiranya sangatlah penting bagi kampus untuk merumuskan gerakan moral terbarukan (The new moral force) untuk menghadapi kleptokrasi individual system (oknum2nya), dan institutional disfunction (ketidakfungsian lembaga), yaitu dengan membangun kembali gerakan wacana. dalam hal ini memperketat kajian budaya dan politik secara kritis untuk menata mentalitas dan moralitas elite, serta melakukan kritik outo kritik terhadap pemerintahan melalui legitimasi ilmiah. Hemat penulis kampus beserta isinya harus menjadi garda depan memberangus budaya koruptif di negeri yang beradab ini.

Sabtu, 11 Mei 2013

Nothing for Everything


saya ingin memulai menulis dari sesuatu yang sederhana, namun tak pernah tuntas. misalnya dengan menarasikan kegiatan yang terencana maupun tidak. ya, hanya sekedar menulis waktu dan tempat kejadian serta lead tulisan. ini tulisan yang sangat minim, karena tidak ada isi dan tujuan. baru label saja. obsesi saya hanya ingin menulis sejarahku sendiri dalam bentuk verbal. seringkali aku tumbang dalam beberapa paragraf. dan tidak bisa melanjutkan. atau terjatuh pada minimnya data-data lapangan. sehingga saking frustasinya hanya menulis puisi dan sajak-sajak. karena lebih mudah dan simlpe. but i wanna make it spirit to write everything.

kata bapak jhon Titelly (Rektor UKSW Salatiga) : "Kamu adalah apa yang kamu tulis"  pesannya pada aktifis Muda yang hendak melakoni ujian tingkat doktor. ia yang bernama tedy kholiludin itu fokus pada kajian sosiologi agama, mereka mendiskusikan tema-tema terkait disertasi yang diangkat oleh mas tedy, yaitu Religious civil. sementara aku hanya rajin mendengar dan membuat quote didalam fikiran tentang kalimat-kalimat kunci. sampai sekarang hanya lima kalimat itu yang masih terngiang didalam fikiranku.

Lantas saya mengambil kesimpulan sekaligus sebagai spirit lain dari berbagai macam bentuk perjuangan. bahwa menulis adalah awal manusia menciptakan sejarahnya. tanpa tulisan sejarah tidak akan pernah lahir. tanda-tanda yang di wakili oleh kalimat dan kata-kata adalah petunjuk untuk mencapai suatu kebenaran sejarah, namun terkadang juga bisa disalahgunakan. ada yang memaknai menulis adalah sebagian dari jihad intelektual. ada pula yang berpendapat bahwa iman revolusi salah satunya dengan menulis. dunia tidak akan bermakna jika kita tidak ikut menumbangkan kata-kata terhadap dunia, dunia tidak pernah berjalan apabila para sejarawan berhenti untuk melepaskan pasukan dan pasokan kata tehadap sejarah umat manusia.

maka dari itu, menulislah! paling tidak untuk sejarahmu sendiri.

Bismillah