Oleh: Bayu Ren
Warin
“Perubahan bukanlah makanan yang siap saji seperti KFC, Mc Donnald dan label-label yang sejenis, tapi perubahan
adalah suatu kehendak bersama yang di racik dari setiap gagasan tentang
proyeksi Perubahan itu sendiri. Dia mewakili suara-suara yang tertekan,
melantangkan kegelisahan dan menghancurkan struktur kuasa di atasnya. Ia
digerakkan, Mula-mula satu berkawand dengan satu, yang satu itu kemudian
bergandengan dengan satu yang lain, satu yang lain lantas berteriak dengan
mengepal kepada yang satu berjumlah banyak, yang satu berjumlah banyak itu lalu
menggandakan diri mereka dalam akselerasi organis sehingga menyatu dalam
kekuatan yang giganti. Perubahan
beruntun ini dinamakan Revolusi, dan dentuman yang keras ini dinamakan
Revolusi, kekacauan yang memiliki konsepsi ini dinamai Revolsi, Pembongkaran
kekuasaan ini yang di sebut-sebut sebagai Revolusi. Higga pada keyakinan total,
bahwa Perubahan itu tak lain tak bukan adalah Revolusi. Jika ada yang mirip
dengan itu maka ia hanyalah malaikat yang tersesat”
Satu setengah dekade yang lalu,
tepatnya tahun 1998 mahasiswa meyelenggarakan
demonstrasi besar-besaran di berbagai pusat pemerintahan. Menuntut agar
president suharto turun dari
kepresidenan. Karena telah melakukan praktik kekuasaan, menciptakan
instabilitas nasional seperti; kelumpuhan ekonomi dan Hutang luar negeri yang
semakin tinggi. Selain itu, pada sektor politik sangat di pengaruhi oleh
kebijakan personal penguasa dengan corak pemerintahan yang otoritarian
birokratik. Sehingga lembaga-lembaga pemerintahan di struktur rentan sekali
dengan kepentingan-kepentingan elite. Apalagi di barengi dengan kebangkrutan
budaya politik berupa Maraknya Korupsi, kolusi maupun nepotisme di tubuh
pemerintahan. Seperti yang pernah di terbitkan oleh ICW. Keadaan yang demikian
memunculkan mosi tidak percaya terhadap penguasa, Puncaknya soeharto
mengundurkan diri dari jabatan karena desakan mahasiswa. Dan mulai saat itu
perubahan ini sering disebut dengan istilah Reformasi sampai sekarang.
Banyak pro dan kontra tentang gejala perubahan ini, diantaranya adalah
actor utama yang melakoni drama sejarah dan para aktor tambahan yang mendadak
menjadi aktor utama. Kenapa demikian?mula-mula gerakan reformasi telah di
bangun melalu letupan-letupan kecil di berbagai kampus. Dimana setiap mahasiswa
me-Rekayasa ulang tentang konsepsi Negara dan social, pada saat yang demikian
pemerintah yang memiliki legitimasi aktif untuk mengatur segala system
kenegaraan mendominisir kebijakan. Disini celah yang menjadi pintu analisis
mahasiswa. Bahwa perlu adanya deregulasi berkenaan dengan
struktur pemerintah. Komposisi yang terdiri dari ABRI, Birokrasi dan Para
Politisi di sayap pemerintah tercium baunya di publik. hubungan mesra itu kemudian di ceraikan oleh agenda mahasiswa yang di sebut dengan Kudeta 98.






josh...
BalasHapus