Cari Blog Ini

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 12 Mei 2015

impunitas


Senin, 11 Mei 2015

2014: Deandles

sekawanan mesin berduyun
merayapi jejalanan
menyapalah, kisah duka
yang terserak di buku-buku

Gottlos

Kepadamu,

Penguasa?

Rezim spirituil

Kamis, 20 November 2014

Prosa Dionisos

perihal usul yang tidak pernah melupakan asal
kala skala menunjukan omega 
yang tak bisa dianalisa mata
jutaan rasi semesta yang tak pernah manunggal
putuskan mata rantai pada setiap jengkal
kami membangun riga tak berpangkal dengan pondasi terkubur aspal dan berlambang sempiternal

Selasa, 25 Juni 2013

Unintended

Oleh : Godong Rawe

Lantangkanlah!
Dan teriak 
Suara-Suara Bisik Nurani

Kobarkanlah!
dan Jeritan 
Semangat Juang tanpa Henti

Senin, 24 Juni 2013

TEORI-TEORI KRITIS (“MENANTANG PANDANGAN UTAMA STUDI POLITIK INTERNASIONAl”)



Oleh : Bayu Ren Warin (Fisip HI)
                Teori kritis saat ini membuka kembali asumsi-asumsi yang telah mendasari pemikiran politik, yaitu dengan mempertanyakan titik awal berfikir secara politis. Dimana semua yang di fahami sebagai struktur atau hal yang nyata dari partikel-partikel kecil merupakan bentukan dari berbagai gagasan yang mapan. Adapun Pertentangan yang terjadi adalah persoalan mengatur susunan partikel itu menjadi suatu hal yang barangkali harus diterima sebagai kebenaran, atau yang lebih naif adalah keniscayaan. Dalam buku “Teori-teori Kritis” yang disusun secara sporadis oleh para penulisnya hendak menciptakan gerbong-gerbong pemikiran melalui metode kritis, sebagaimana yang telah disampaikan Michel Foucault  bahwa “pengetahuan tidak sekedar dibuat demi pemahaman; itu justru dibuat untuk memotong setajam-tajamnya”. Apa yang menjadi pemahaman para teoritisi sosial maupun politik, seharusnya tidak hanya menyajikan secara deskriptif persoalan-persoalan yang di hadapi oleh manusia, atau dalam hubungan internasional adalah negara, pada taraf ini karl marx juga pernah berpesan secara tegas terhadap para filsuf dengan pernyataan “tugas filsuf bukanlah memberikan gambaran utuh tentang dunia, namun yang terpenting adalah merubahnya”, seperti dalam buku ini, meskipun penulis menyajikan berbagai pendekatan teori kritis dari banyak pemikir sosiolog atau politik, dan bahkan filsuf modern, belum mampu secara jujur dan tegas berbicara tentang kelemahan dari para pemikir-pemikir itu sendiri. kritik atas kritik penting kiranya untuk memberikan perimbangan kritis atas teori yang digunakan sebagai pendekatan studi politik internasional. Maka perspektif yang digunakan seharusnya menggunakan pendekatan teori-teori kritis untuk melakukan kritik terhadap teori-teori kritis itu sendiri.
                Ada pertanyaan yang harus diajukan pada buku “Teori-teori Kritis”, yaitu kenapa rangkaian pemikiran ini dimulai dengan Theodor Adorno (dialectic of enlightenment) yang menyebutkan bahwa pencerahan adalah totalitarian (Adorno dan horkheimar 1997:6), padahal jika melihat narasi agung pemikiran kritis ala barat, dimulai dengan perselisihan antara positivis dan empiris, yang kemudian menjadi madzhab teori-teori sosial dan politik pasca renaisans; Yang justru di buka oleh Hegel, marx, kant selanjutnya di bunuh oleh Nietzsche serta freud. Kecurigaan ini sangat kentara sekali dalam rangka memberikan legitimasi forma pada hegemoni mazhab frankfrut, yang kemudian di gunakan sebagai pendekatan politik internasional dan juga menjaga stabilitas pemikiran kritis terhadap kritik atas teori-teori kritis (politik internasional dan geografi pemikirannya).
                Pada mulanya teori kritis di gunakan sebagai pisau analisa untuk mendapatkan gejala-gejala umum pada system sosial, akan tetapi disini dari sebagain besar pemikiran mulai dari mazhab frankfrut hingga mundur kebelakang seperti marx, hegel, kant dijadikan suatu model pendekatan untuk menganalisis politik internasional atau bahkan meniadakan kehadirannya. Negara akan berbeda makna dan fungsi jika metode-metode kritis dilakukan dengan berbagai varian pemikiran. Disatu sisi multyminded theory mereformasi struktur negara dengan cara komprehensif yang bersifat temporal. Atau sesuai dengan dimensi terbatas, bukan menjadi satu kesepakatan realitas sebagaimana yang di ajarkan oleh kaum realisme atau neo realism.  


Mahasiswa dan Gerakan Kudeta

Oleh: Bayu Ren Warin
                “Perubahan bukanlah makanan yang siap saji seperti  KFC, Mc Donnald  dan label-label yang sejenis, tapi perubahan adalah suatu kehendak bersama yang di racik dari setiap gagasan tentang proyeksi Perubahan itu sendiri. Dia mewakili suara-suara yang tertekan, melantangkan kegelisahan dan menghancurkan struktur kuasa di atasnya. Ia digerakkan, Mula-mula satu berkawand dengan satu, yang satu itu kemudian bergandengan dengan satu yang lain, satu yang lain lantas berteriak dengan mengepal kepada yang satu berjumlah banyak, yang satu berjumlah banyak itu lalu menggandakan diri mereka dalam akselerasi organis sehingga menyatu dalam kekuatan yang giganti. Perubahan  beruntun ini dinamakan Revolusi, dan dentuman yang keras ini dinamakan Revolusi, kekacauan yang memiliki konsepsi ini dinamai Revolsi, Pembongkaran kekuasaan ini yang di sebut-sebut sebagai Revolusi. Higga pada keyakinan total, bahwa Perubahan itu tak lain tak bukan adalah Revolusi. Jika ada yang mirip dengan itu maka ia hanyalah malaikat yang tersesat”
                Satu setengah dekade yang lalu, tepatnya tahun 1998 mahasiswa meyelenggarakan  demonstrasi besar-besaran di berbagai pusat pemerintahan. Menuntut agar president  suharto turun dari kepresidenan. Karena telah melakukan praktik kekuasaan, menciptakan instabilitas nasional seperti; kelumpuhan ekonomi dan Hutang luar negeri yang semakin tinggi. Selain itu, pada sektor politik sangat di pengaruhi oleh kebijakan personal penguasa dengan corak pemerintahan yang otoritarian birokratik. Sehingga lembaga-lembaga pemerintahan di struktur rentan sekali dengan kepentingan-kepentingan elite. Apalagi di barengi dengan kebangkrutan budaya politik berupa Maraknya Korupsi, kolusi maupun nepotisme di tubuh pemerintahan. Seperti yang pernah di terbitkan oleh ICW. Keadaan yang demikian memunculkan mosi tidak percaya terhadap penguasa, Puncaknya soeharto mengundurkan diri dari jabatan karena desakan mahasiswa. Dan mulai saat itu perubahan ini sering disebut dengan istilah Reformasi sampai sekarang.

                Banyak pro dan kontra tentang gejala perubahan ini, diantaranya adalah actor utama yang melakoni drama sejarah dan para aktor tambahan yang mendadak menjadi aktor utama. Kenapa demikian?mula-mula gerakan reformasi telah di bangun melalu letupan-letupan kecil di berbagai kampus. Dimana setiap mahasiswa me-Rekayasa ulang tentang konsepsi Negara dan social, pada saat yang demikian pemerintah yang memiliki legitimasi aktif untuk mengatur segala system kenegaraan mendominisir kebijakan. Disini celah yang menjadi pintu analisis mahasiswa.  Bahwa perlu adanya deregulasi berkenaan dengan struktur pemerintah. Komposisi yang terdiri dari ABRI, Birokrasi dan Para Politisi di sayap pemerintah tercium baunya di publik. hubungan mesra itu kemudian di ceraikan oleh agenda mahasiswa yang di sebut dengan Kudeta 98.