This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Selasa, 12 Mei 2015
Senin, 11 Mei 2015
2014: Deandles
10.34
No comments
sekawanan mesin berduyun
merayapi jejalanan
menyapalah, kisah duka
yang terserak di buku-buku
merayapi jejalanan
menyapalah, kisah duka
yang terserak di buku-buku
Kamis, 20 November 2014
Prosa Dionisos
04.01
No comments
perihal usul yang tidak pernah melupakan asal
kala skala menunjukan omega
yang tak bisa dianalisa mata
jutaan rasi semesta yang tak pernah manunggal
putuskan mata rantai pada setiap jengkal
kami membangun riga tak berpangkal dengan pondasi terkubur aspal dan berlambang sempiternal
Selasa, 25 Juni 2013
Unintended
09.35
No comments
Oleh : Godong Rawe
Lantangkanlah!
Dan teriak
Suara-Suara Bisik Nurani
Kobarkanlah!
dan Jeritan
Semangat Juang tanpa Henti
Senin, 24 Juni 2013
TEORI-TEORI KRITIS (“MENANTANG PANDANGAN UTAMA STUDI POLITIK INTERNASIONAl”)
13.57
No comments
Oleh : Bayu Ren Warin (Fisip HI)
Teori kritis saat ini membuka
kembali asumsi-asumsi yang telah mendasari pemikiran politik, yaitu dengan mempertanyakan titik awal berfikir secara politis. Dimana
semua yang di fahami sebagai struktur atau hal yang nyata dari
partikel-partikel kecil merupakan bentukan dari berbagai gagasan yang mapan.
Adapun Pertentangan yang terjadi adalah persoalan mengatur susunan partikel itu
menjadi suatu hal yang barangkali harus diterima sebagai kebenaran, atau yang
lebih naif adalah keniscayaan. Dalam buku “Teori-teori Kritis” yang disusun
secara sporadis oleh para penulisnya hendak menciptakan gerbong-gerbong pemikiran
melalui metode kritis, sebagaimana yang telah disampaikan Michel Foucault bahwa “pengetahuan
tidak sekedar dibuat demi pemahaman; itu justru dibuat untuk memotong
setajam-tajamnya”. Apa yang menjadi pemahaman para teoritisi sosial maupun
politik, seharusnya tidak hanya menyajikan secara deskriptif
persoalan-persoalan yang di hadapi oleh manusia, atau dalam hubungan
internasional adalah negara, pada taraf ini karl marx juga pernah berpesan
secara tegas terhadap para filsuf dengan pernyataan “tugas filsuf bukanlah memberikan gambaran utuh tentang dunia, namun
yang terpenting adalah merubahnya”, seperti dalam buku ini, meskipun
penulis menyajikan berbagai pendekatan teori kritis dari banyak pemikir
sosiolog atau politik, dan bahkan filsuf modern, belum mampu secara jujur dan
tegas berbicara tentang kelemahan dari para pemikir-pemikir itu sendiri. kritik
atas kritik penting kiranya untuk memberikan perimbangan kritis atas teori yang
digunakan sebagai pendekatan studi politik internasional. Maka perspektif yang
digunakan seharusnya menggunakan pendekatan teori-teori kritis untuk melakukan
kritik terhadap teori-teori kritis itu sendiri.
Ada pertanyaan yang harus
diajukan pada buku “Teori-teori Kritis”, yaitu kenapa rangkaian pemikiran ini
dimulai dengan Theodor Adorno (dialectic
of enlightenment) yang menyebutkan bahwa pencerahan adalah totalitarian
(Adorno dan horkheimar 1997:6), padahal jika melihat narasi agung pemikiran
kritis ala barat, dimulai dengan perselisihan antara positivis dan empiris,
yang kemudian menjadi madzhab teori-teori sosial dan politik pasca renaisans;
Yang justru di buka oleh Hegel, marx, kant selanjutnya di bunuh oleh Nietzsche
serta freud. Kecurigaan ini sangat kentara sekali dalam rangka memberikan
legitimasi forma pada hegemoni mazhab frankfrut, yang kemudian di gunakan
sebagai pendekatan politik internasional dan juga menjaga stabilitas pemikiran
kritis terhadap kritik atas teori-teori kritis (politik internasional dan
geografi pemikirannya).
Pada mulanya teori kritis di
gunakan sebagai pisau analisa untuk mendapatkan gejala-gejala umum pada system
sosial, akan tetapi disini dari sebagain besar pemikiran mulai dari mazhab
frankfrut hingga mundur kebelakang seperti marx, hegel, kant dijadikan suatu
model pendekatan untuk menganalisis politik internasional atau bahkan
meniadakan kehadirannya. Negara akan berbeda makna dan fungsi jika
metode-metode kritis dilakukan dengan berbagai varian pemikiran. Disatu sisi multyminded
theory mereformasi struktur negara dengan cara
komprehensif yang bersifat temporal. Atau sesuai dengan dimensi terbatas, bukan
menjadi satu kesepakatan realitas sebagaimana yang di ajarkan oleh kaum
realisme atau neo realism.
Mahasiswa dan Gerakan Kudeta
13.45
1 comment
Oleh: Bayu Ren
Warin
“Perubahan bukanlah makanan yang siap saji seperti KFC, Mc Donnald dan label-label yang sejenis, tapi perubahan
adalah suatu kehendak bersama yang di racik dari setiap gagasan tentang
proyeksi Perubahan itu sendiri. Dia mewakili suara-suara yang tertekan,
melantangkan kegelisahan dan menghancurkan struktur kuasa di atasnya. Ia
digerakkan, Mula-mula satu berkawand dengan satu, yang satu itu kemudian
bergandengan dengan satu yang lain, satu yang lain lantas berteriak dengan
mengepal kepada yang satu berjumlah banyak, yang satu berjumlah banyak itu lalu
menggandakan diri mereka dalam akselerasi organis sehingga menyatu dalam
kekuatan yang giganti. Perubahan
beruntun ini dinamakan Revolusi, dan dentuman yang keras ini dinamakan
Revolusi, kekacauan yang memiliki konsepsi ini dinamai Revolsi, Pembongkaran
kekuasaan ini yang di sebut-sebut sebagai Revolusi. Higga pada keyakinan total,
bahwa Perubahan itu tak lain tak bukan adalah Revolusi. Jika ada yang mirip
dengan itu maka ia hanyalah malaikat yang tersesat”
Satu setengah dekade yang lalu,
tepatnya tahun 1998 mahasiswa meyelenggarakan
demonstrasi besar-besaran di berbagai pusat pemerintahan. Menuntut agar
president suharto turun dari
kepresidenan. Karena telah melakukan praktik kekuasaan, menciptakan
instabilitas nasional seperti; kelumpuhan ekonomi dan Hutang luar negeri yang
semakin tinggi. Selain itu, pada sektor politik sangat di pengaruhi oleh
kebijakan personal penguasa dengan corak pemerintahan yang otoritarian
birokratik. Sehingga lembaga-lembaga pemerintahan di struktur rentan sekali
dengan kepentingan-kepentingan elite. Apalagi di barengi dengan kebangkrutan
budaya politik berupa Maraknya Korupsi, kolusi maupun nepotisme di tubuh
pemerintahan. Seperti yang pernah di terbitkan oleh ICW. Keadaan yang demikian
memunculkan mosi tidak percaya terhadap penguasa, Puncaknya soeharto
mengundurkan diri dari jabatan karena desakan mahasiswa. Dan mulai saat itu
perubahan ini sering disebut dengan istilah Reformasi sampai sekarang.
Banyak pro dan kontra tentang gejala perubahan ini, diantaranya adalah
actor utama yang melakoni drama sejarah dan para aktor tambahan yang mendadak
menjadi aktor utama. Kenapa demikian?mula-mula gerakan reformasi telah di
bangun melalu letupan-letupan kecil di berbagai kampus. Dimana setiap mahasiswa
me-Rekayasa ulang tentang konsepsi Negara dan social, pada saat yang demikian
pemerintah yang memiliki legitimasi aktif untuk mengatur segala system
kenegaraan mendominisir kebijakan. Disini celah yang menjadi pintu analisis
mahasiswa. Bahwa perlu adanya deregulasi berkenaan dengan
struktur pemerintah. Komposisi yang terdiri dari ABRI, Birokrasi dan Para
Politisi di sayap pemerintah tercium baunya di publik. hubungan mesra itu kemudian di ceraikan oleh agenda mahasiswa yang di sebut dengan Kudeta 98.
Langganan:
Postingan (Atom)










